Ketika Sadar Kembali..

rain

Ya, itu tadi postingan di sela-sela lamunan siang hari. Lamunan yang membuatku sejenak lupa akan alasan keluar dari profesi yang sungguh aku idamkan itu. Bahkan jari-jari ku ini sempat nekad untuk menelusuri situs “Mbah Google” untuk sekedar mencari lowongan pekerjaan di media impianku *gak akan sebut merk*.

Namun ketika Mbah Google sudah memberikan jawaban, gambar demi gambar keluar dari otakku yang tiba-tiba jadi ikutan picik alias matre.

  1. Gambar pertama: Apartemen

Ya, aku dan suamiku -yang notabene adalah seorang wartawan- saat ini sedang ngeker-ngeker apartemen sebagai tempat untuk kami sebut sebagai rumah pertama (meskipun bukan rumah). Pikiranku kemudian berkelana: Gimana bisa beli apartemen kalau kami berdua sama-sama jadi wartawan?

capitol park 1

2. Gambar kedua, dan gambar ini berhasil membuatku lemas selemas-lemasnya sehingga buru-buru menyibakkan bendera putih: kliniknya dr.Ivan yang kemudian membawa gambaran seorang anak perempuan lucu nan menggemaskan (Asli deh, bukannya membedakan.. Buat gw Laki/perempuan sama aja, wong dikasih aja udah alhamdulillah wa syukurillah. Tapi jujur yang kebayang pas nulis ini kebetulan perempuan).

quotes1031

Psst (abaikan): Lucu ya, meskipun gw and laki gw ga ada turunan bule tapi yang namanya berkhayal kan bebas, apa aja boleh.. hehehe.

Pikiranku kembali mengelana. Benakku bertanya-tanya, gimana caranya bisa lanjutin program di dr.Ivan kalau kami berdua sama-sama jadi wartawan. Selain profesi itu sangat menyibukkan sekali namun yang terpenting adalah sekali visit dokter paling engga butuh biaya 275 ribuan, belum USG. Kalau langsung hamil sih enak, biayanya ga mahal-mahal banget, berani deh gw balik jadi wartawan kalau gitu ceritanya. Tapi kan kenyataan bercerita lain, Tuhan berkehendak tak sama dengan harapan kami. Mungkin Dia belum percaya sama kami (pastinya gw) sehingga kami diwajibkan untuk berjuang tanpa henti “Merayu” Tuhan sehingga kami diberi kepercayaan yang demikian besar dan indah. Lalu gimana nanti kalau harus insem, 7 juta aja. Belum lagi kalau bayi tabung (Mudah-mudahan enggak ya, Ya Allah. Jangan ya… Please, please, pleaseeeee), biayanya sekitar 90 jutaan. Ngeriiiiiiiii.

Terpaksa deh kalimat sakti ini harus keluar: “Mana mungkin bisa wujudin semua mimpi kalau gw dan suami dua-duanya keukeuh jadi wartawan. So I think yeah, I made a right decision by leaving that profession. No turning back. Biar lah gw yang mengalah (*lebainya juara! ). Meskipun deep down inside I know that I will always miss me being a journalist. But hey, life is not a fairytale, nor as sweet without sour.  Hidup ga seindah warna-warni pelangi Cuy, butuh perjuangan!!! Makaaaa…

Buru-buru gw tutup halaman berisikan jawaban dari Mbah Google. Tarik nafas dalam-dalam sembari menguatkan diri dan berkata:

“Oke, I admit that I HATE THIS JOB BUT I LOVE THE MONEY.” Secinta-cintanya gw jadi wartawan, gw lebih cinta jadi seorang ibu. So, biarlah gw tutup lembaran cerita and I promise that I will never EVER look back again.

Goodbye my dreams, it’s time for me to put you on the top of the shelf for the rest of my life, this time I know it’s for real, for good!! Maybe we are destined in another life, or maybe not. We will never know.

Sober again,

Me

Advertisements