Ketika Rindu itu Tak Mau Pergi

As you all aware, this is my first post using Bahasa, but I cannot help it, I just need a medium to share my sadness 😦

Image taken from here

________________________________________________________________________________________

Rasa itu datang tanpa peringatan, membuat dada ini mendadak terasa sesak dan tak ada yang bisa ku lakukan selain menangis. Sungguh, aku rindu menulis.

Tak terasa dua tahun sudah pena aku gantungkan, kartu sakti ku tanggalkan. Namun entah mengapa sebersit  kesedihan terus menghampiriku dari waktu ke waktu. Mimpi yang terus aku pupuk semenjak kecil harus ku hempaskan lantaran terbentur masalah ekonomi, klise bukan? Susah memang, tuntutan untuk sukses dari sisi materi kerap kali menekanku hingga mengharuskanku meninggalkan profesi yang sesungguhnya amat aku cintai itu.

“Ngapain jadi wartawan, ngejar berita kayak kelelawar nyari makan. Bangun siang pulang subuh, apa gak capek? Pantes aja rejekimu dipatok ayam. Mending kayak si anu, kerja  kantoran, pakai baju bagus, duduk di meja, hidup teratur, pergi pagi pulang sore, dapet duit segepok,” kurang lebih itulah cibiran dari keluargaku yang hampir selalu aku dengar setiap kali bertemu. Untungnya, menjadi wartawan membuatku kehilangan waktu berkumpul dengan keluarga. Hingga aku menemukan keluarga baru di kantor sederhana bertingkat tiga itu.

Kantorku saat itu bisa dibilang jauh dari kata megah. Hanya berdiri diatas sebuah ruko kecil, bisa diputari hanya dengan 5 menit! Gedungnya pun tak sedap dipandang, bahkan mirip seperti gudang. Tangganya terbuat dari kayu usang yang berderak dalam setiap langkah yang menapakinya. Sangat jauh dibandingkan kantorku saat ini yang terletak di sebuah gedung yang terelit di Jakarta. Berlokasi di Sudirman Central Business District, gedung kantorku memiliki dua tower megah yang masing-masing berlantaikan puluhan tingkat, berdiri dengan angkuhnya di bilangan Sudirman – Senayan. Bersebrangan dengan mall terelit dan termahal di Jakarta, bisa masuk ke dalam pengamanan gedung saja sudah bangga karena terbilang cukup sulit.

Walaupun sangat jauh dibanding kantorku saat ini, tapi di gedung usang, kecil dan menyedihkan itulah tempat dimana aku merasa bahagia. Aku merasa penting! Berguna tak hanya bagi diriku tapi juga bagi banyak orang. Meski kurun waktu yang aku lalui sebagai wartawan bisa dibilang tidak lama namun begitu banyak pengalaman sedih-senang ku dapatkan. Pribadiku ditempa di tempat itu, aku menjadi seorang tangguh seperti sekarang dikarenakan pengalamanku menjadi wartawan. Pengetahuanku bertambah secara signifikan, link dan networkingku kini sudah menjadi sangat luas, bahkan rekan sesama wartawan seringkali  bergurau dengan berkata: “wartawan itu teman jenderal gaji kopral”. Namun di gedung berwarna merah-hitam itu lah aku merasa menemukan jati diriku sesungguhnya.

Sampai kapan aku akan merasakan kerinduan dan kehausan akan mencari berita? Entah, aku pun tak tahu. Yang pasti, hidup itu tak seindah warna-warni pelangi. Terkadang ia menjauhkan kita dari segala mimpi, memutar seluruh harapan namun pasti ada rencana indah yang tersimpan bagi semua orang yang cukup tangguh untuk tetap bersabar mengarungi samudera yang disebut kehidupan.

Well, just like John Mayer said:

Pain throws your heart to the ground
Love turns the whole thing around
No, it won’t all go the way it should
But I know the heart of life is good

Yeah, I know the heart of life is go0d.. Just be patience, that’s the key 🙂

Optimist,

Me

Advertisements